Bagaimana kondisi lingkungan di Indonesia?

Monday, 5 March 2012

Bagaimana Mengetahui Seseorang Sedang Berbohong?

Mampu mengetahui seseorang sedang berbohong kepada anda akan sangat membantu kehidupan anda menjadi lebih baik. Coba anda bayangkan sebentar saja … - Apakah anda mempunyai perasaan yang tidak nyaman jika anda tidak dapat segera mengetahui bahwa seseorang sedang memceritakan sebuah kebohongan kepada anda?

Tuesday, 28 February 2012

Jangan Bingung Memilih Jurusan!

Ayu Rahayu Elfitri | Inggried Dwi Wedhaswary | Kamis, 2 Februari 2012 | 09:19 WIB KOMPAS.com - Memilih jurusan terkadang menjadi masalah tersendiri bagi calon mahasiswa. Hal ini terjadi ketika mereka belum mengetahui minat dan bakatnya sejak dini. Alhasil, tak sedikit yang merasa telah salah memilih jurusan ketika duduk di bangku perkuliahan. Sebelum hal itu terjadi pada Anda, lima hal di bawah ini bisa dipertanyakan kepada diri sendiri sebelum mengambil keputusan. Apa saja?

Panduan Menulis Jurnal Ilmiah

Ayu Rahayu Elfitri | Inggried Dwi Wedhaswary | Kamis, 9 Februari 2012 | 10:35 WIB KOMPAS.com - Ada banyak panduan yang bisa membantu Anda dalam menulis sebuah jurnal ilmiah. Panduan yang satu ini, mungkin bisa dijadikan referensi. Format umum untuk jurnal ilmiah biasanya terdiri dari: 1. Judul; 2. Abstrak; 3. Pendahuluan; 4. Bahan dan metode; 5. Hasil; 6. Pembahasan; 7. Kesimpulan; 8. Daftar pustaka.

Wednesday, 28 December 2011

10 Makanan Paling Bergizi di Dunia

Bramirus Mikail | Lusia Kus Anna | Rabu, 28 Desember 2011 | 10:57 WIB
Kompas.com - Sehat tidaknya makanan yang kita asup semua tergantung kita. Dan membuat perubahan, khususnya pada apa yang Anda makan adalah salah satu cara termudah untuk mengelola dan mengontrol kesehatan. Selain memberikan energi yang dibutuhkan, makanan yang Anda konsumsi setiap hari juga berperan penting dalam mencegah berbagai penyakit. Ada banyak makanan sehat yang bisa dengan mudah Anda peroleh di alam ini. Berikut adalah 10 makanan paling bergizi di dunia yang harus Anda masukan dalam menu makanan sehari-hari: Alpukat Jangan salah mengartikan lemak yang terkandung pada buah alpukat. Lemak alpukat termasuk dalam kelompok lemak tak jenuh tunggal sehingga tidak akan membuat perut Anda gendut. Buah alpukat justru dapat menurunkan kolesterol. Para peneliti menemukan bahwa mengganti hanya lima persen dari kalori yang berasal dari lemak jenuh (mentega atau keju) dengan lemak tak jenuh tunggal (alpukat) bisa memangkas risiko serangan jantung lebih dari sepertiga. Manfaat tambahan lainnya, alpukat juga tinggi kandungan beta-sitosterol, sterol tanaman yang menghambat penyerapan kolesterol dari makanan, bertindak sebagai senyawa antikanker (glutatin) dan antioksidan kuat.

Friday, 16 December 2011

10 Trik agar Belajar Anda Efektif


Shutterstock Ilustrasi

Inggried Dwi Wedhaswary | Selasa, 13 Desember 2011 | 11:11 WIB
Mungkin ada yang memercayai bahwa kesuksesan dalam belajar datang dengan sendirinya. Tak salah memang, ketika ada yang meraih kesuksesan dalam studinya, padahal ia terlihat tidak melakukan usaha yang sangat keras. Akan tetapi, kebanyakan pelajar justru meraih kesuksesan dengan mengembangkan dan mengaplikasikan kebiasaan belajar yang efektif? Nah, 10 trik berikut ini mungkin bisa jadi panduan bagi Anda yang tengah mencari cara terbaik dalam belajar.

1. Jangan mencoba untuk memaksakan belajar dalam satu sesi

Biasanya, para pelajar yang sukses selalu meluangkan waktu belajarnya lebih pendek dan jarang memaksakan mempelajari seluruhnya dalam satu atau dua sesi. Kuncinya, belajarlah dengan konsisten dan lakukan secara reguler meskipun dalam waktu singkat.

Kalpataru Sumut Selamatkan Lingkungan

Kalpataru Sumut selamatkan lingkungan
Warta
WASPADA ONLINE
TOBASA - Sebanyak 13 kelompok pengabdi lingkungan penerima penghargaan Kalpataru Sumatera Utara, akan menyampaikan deklarasi sebagai komitmen melestarikan lingkungan dan seruan penyelamatan Danau Toba di depan Menteri Lingkungan Hidup, Gusti Muhammad Hatta.

“Dokumen deklarasi akan diserahkan lima orang utusan kader lingkungan hidup pada acara revitalisasi peran para penerima Kalpataru, Kamis (20/10) di Taman Eden Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara,” ujar Ketua Yayasan El Shaddai, Marandus Sirait, tadi sore.

Ia mengatakan, penyampaian deklarasi bertujuan untuk membangun kesatuan dan kesamaan persepsi di antara para penerima Kalpataru sebagai bentuk komitmen terhadap kepedulian perbaikan kualitas ekosistem Danau Toba yang dewasa ini kian terganggu keseimbangannya.

Sejak tahun 1980 hingga 2011, pemerintah telah menganugerahkan Kalpataru kepada 285 masyarakat yang tersebar di berbagai daerah dan 13 kelompok, di antaranya berasal dari Provinsi Sumatera Utara.

Marandus, yang juga penerima Kalpataru kategori Perintis Lingkungan tahun 2005 itu menyebutkan, dirinya merasa ngeri memikirkan dampak yang terjadi atas kerusakan ekosistem danau Toba, sebab jika terus dibiarkan degradasinya akan semakin parah, ditambah pembalakan liar terhadap kawasan hutan di wilayah tersebut.

Memang, kata dia, gerakan moral serta tanggungjawab menyelamatkan danau kebanggaan bangsa tersebut merupakan panggilan nurani dan bukan keterpaksaan, yang tentunya harus diperlihatkan dengan aksi nyata.

Sebab, lanjutnya, keindahan alam merupakan suatu karunia Tuhan yang sangat berharga dalam kehidupan manusia yang jika dimanfaatkan dengan baik akan berpengaruh positif menuju masyarakat sejahtera, dan sebaliknya bisa mengakibatkan kesengsaraan bagi kehidupan masyarakat.

“Dengan pernyataan sikap ‘Clean up The Lake dan Green up The land’ mari kita selamatkan Danau Toba, sebab kekayaan alamnya yang luar biasa sudah termasuk dalam daftar keajaiban dunia,” kata Marandus.

Menurutnya, kondisi danau terbesar di Asia Tenggara tersebut sudah semakin kritis, sebab dari luas 260 ribu hektar, sekitar 100 ribu hektar ekosistemnya sudah rusak, dan keindahannya dikotori sampah dan polusi, bahkan hutan sebagai resapan air pun banyak yang telah dibakar.

Dikatakannya, kegiatan revitalisasi peran penerima Kalpataru tersebut guna mengendalikan pencemaran dan kerusakan lingkungan dan pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Pusat PLH Eko Region Sumatera, serta para penerima Kalpataru dari berbagai wilayah.

Editor: SUWANDI

Thursday, 24 November 2011

Di Mana Tempat Konservasi Terbaik bagi Bulus Raksasa?


Yunanto Wiji Utomo | Heru Margianto | Jumat, 18 November 2011 | 11:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Bulus raksasa yang ditemukan di Ciliwung pada Jumat (11/11/2011) lalu diketahui merupakan spesies Chitra chitra javanensis, satwa langka yang dilindungi menurut PP7/1999 dan masuk Red List International Union for Conservation of Nature (IUCN). Karenanya, langkah konservasi harus dilakukan.

Pakar herpetologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Djoko Tjahjono Iskandar, yang dihubungi Kompas.com, Kamis (17/11/2011), mengatakan, konservasi yang paling tepat adalah di di kebun binatang. "Atau tempat seperti Taman Safar," kata dia.

Menurutnya, kondisi habitat Ciliwung sudah rusak dan banyak menghadapi tekanan dari warga kota Jakarta. Di samping itu, perhatian pada biodiversitas Ciliwung sangat minim bila dibandingkan dengan wilayah konservasi lainnya.

Menurut Djoko, penangkaran di kebun binatang memungkinkan bulus mendapatkan kondisi lingkungan yang lebih mendukung. Di samping itu, dengan penangkaran, penelitian terhadap bulus raksasa itu akan lebih mudah dilakukan. Untuk penangkaran sendiri perlu penelitian tentang reproduksi dan pakan.

Namun, ia mengatakan, penangkaran di kebun binatang akan menghadapi tantangan dalam metode maupun pendanaan. Tempat yang cukup besar harus disediakan karena bulus tersebut biasa hidup di sungai besar.

Selain itu, jumlah individu, yang ditangkarkan juga harus memadai sehingga kemungkinan kawin dan mendapatkan keturunan juga lebih tinggi, minimal 20 individu. Penyediaan pakan juga akan menjadi tantangan jika jumlah individu banyak, sebab pasti akan memakan dana besar.

Chitra chitra javanensis, terang Djoko, merupakan salah satu spesies bulus terbesar yang ada di dunia. Bulus raksasa itu adalah satu dari dua spesies bulus di Indonesia yang berwarna hitam. Karenanya, bulus ini perlu untuk dilestarikan.

Chitra chitra javanensis tersebar di Jawa, Sumatera dan Thailand. Populasi satwa ini belum diketahui dengan pasti. Kebun binatang Ragunan hanya memiliki satu ekor satwa langka tersebut.

Source: http://sains.kompas.com/read/2011/11/18/1102295/Di.Mana.Tempat.Konservasi.Terbaik.bagi.Bulus.Raksasa